PROFIL KAWASAN
Dibuat oleh : Admin pada tanggal 03 Jun 2017 10:00:00

A.    Letak dan Luas
Taman Nasional Wakatobi (TNW) dikelola dengan sistem zonasi yang ditetapkan dengan Keputusan Direktur Jenderal Perlindungan Hutan Konservasi Alam (PHKA) No. SK. 149/IV-KK/2007 tanggal 23 Juli 2007, terdiri dari : zona inti (1.300 ha), zona pemanfaatan bahari (36.450 ha), zona pariwisaata (6.180 ha), zona pemanfaatan lokal (804.000 ha), zona pemanfaatan umum (495.700 ha) dan zona khusus darat (46.370 ha). Taman Nasional Wakatobi  adalah  kawasan  konservasi  perairan laut  yang  dibatasi  atau memiliki  batas-batas  luar  yang  berupa garis-garis  yang  menghubungkan  titik-titik  dengan  koordinat sebagai berikut (Peta terlampir):
1)    Titik  1  dengan  koordinat  geografis  05011’57”  LS  dan 123020’00” BT;
2)    Titik  2  dengan  koordinat  geografis  05012’04”  LS  dan 123038’56” BT;
3)    Titik  3  dengan  koordinat  geografis  05012’04”  LS  dan 123039’01” BT;
4)    Titik  4  dengan  koordinat  geografis  05012’04”  LS  dan 123050’00” BT;
5)    Titik  5  dengan  koordinat  geografis  06036’04”  LS  dan 123020’00” BT.
Berdasarkan  administratif  pemerintahan  wilayah  Kepulauan Wakatobi  yang  terbagi  ke  dalam  67  desa/kelurahan  dan  8 (delapan)  kecamatan  termasuk  ke  dalam  wilayah  Kabupaten Wakatobi Propinsi Sulawesi Tenggara. Luas  kawasan  TNW  adalah  1.390.000  Ha  sama  persis  atau overlap dengan  luas wilayah Kabupaten Wakatobi.   Dari  luasan tersebut  sebanyak  97%  merupakan  wilayah  perairan/laut  dan sisanya sebanyak 3% merupakan wilayah daratan berupa pulau-pulau.   

B.    Iklim dan Musim
Iklim  di  Kepulauan  Wakatobi  menurut  Schmidt-Furgusson termasuk  tipe  C,  dengan  dua  musim yaitu  musim  kemarau (musim timur: April – Agustus) dan musim hujan (musim barat: September – April).  Suhu harian berkisar antara 19 – 34o C.

C.    Hidrologi
Secara  umum  kondisi  hidrologi  di  pulau-pulau  yang  ada  di Kepulauan  Wakatobi  adalah bersumber  dari  air  tanah,  yang berbentuk  semacam  goa  (masyarakat  Wakatobi  menyebutnya
Topa) yang dipengaruhi pasang surut air laut, sehingga rasanya tidak  terlalu  tawar.   Semakin dekat sumber air  tersebut ke  laut semakin payau  rasa air  tersebut.   Di  seluruh pulau-pulau yang ada  di  kawasan  TNW  semuanya  tidak  mempunyai  sungai, sehingga air hujan yang jatuh langsung diserap oleh tumbuhan dan  sebagian  lagi mengalami aliran permukaan. Air hujan oleh kebanyakan  masyarakat  Wakatobi  ditampung  dalam  bak penampungan  sebagai  cadangan  air  dalam  musim  kemarau yang digunakan untuk kebutuhan rumah tangga dan air minum.

D.    Oseanografi
Perairan TNW tergolong masih bersih dan belum terlihat adanya pengaruh kegiatan manusia  seperti  limbah  rumah  tangga.   Hal ini  ditandai  oleh  tingginya  dan  homogennya  kadar  oksigen terlarut (5,28 - 7,59 ppm), serta kadar nitrit (< 1,00 - 4,20 ppb) yang  selalu  lebih  rendah  dibandingkan  dengan  kadar nitrat  (< 1,00 - 22,46  ppb).   Suhu permukaan laut (2 m) berkisar antara 27,26 – 28,730C.  Nilai salinitas pada permukaan (2 m) berkisar antara 34,15 - 34,34 psu.  Kecerahan pada permukaan (2 m) di perairan  Wakatobi  berkisar  antara  70,8  –  86,1  %.    Nilai kekeruhan (turbiditas) sangat rendah yaitu < 1 NTU.  Intensitas matahari  mampu  menembus sampai  kedalaman  antara  55 meter hingga 122 meter.   Kecepatan arus pada  kedalaman 13 meter  berkisar  antara  25  –  43 meter/detik.    (Laporan  CRITC-COREMAP LIPI, 2001)

E.    Geologi
Terbentuknya  kepulauan Wakatobi dimulai  sejak  jaman Tersier hingga  akhir  jaman  Miosen.    Pembentukan  pulau-pulau  di kawasan  ini  akibat  adanya  proses  geologi  berupa  sesar  geser, sesar  naik  maupun  sesar  turun  dan  lipatan  yang  tidak  dapat dipisahkan  dari  bekerjanya  gaya  tektonik  yang  berlangsung sejak  jaman  dulu  hingga  sekarang.      Secara  keseluruhan kepulauan  ini  terdiri  dari  39  pulau,  3  gosong  dan  5  atol. Terumbu  karang  di  kepulauan  ini  terdiri  dari  karang  tepi (fringing  reef),  gosong  karang  (patch  reef)  dan  atol.    Empat pulau utama di Kepulauan Wakatobi, yaitu Pulau Wangi-Wangi, Kaledupa, Tomia dan Binongko.  Dari  proses  pembentukannya,  atol  yang  berada  di  sekitar kepulauan Wakatobi berbeda dengan atol daerah lain. Atol yang berada di kepulauan  ini  terbentuk oleh adanya penenggelaman dari  lempeng  dasar.  Terbentuknya  atol  dimulai  dari  adanya kemunculan  beberapa  pulau  yang  kemudian  diikuti  oleh pertumbuhan karang yang mengelilingi pulau.  Terumbu karang yang  ada  di  sekeliling  pulau  terus  tumbuh  ke  atas  sehingga terbentuk  atol  seperti  beberapa  atol  yang  terlihat  sekarang, antara lain Atol Kaledupa, Atol Kapota, dan Atol Tomia.  


F.    Aksesibilitas

Menuju Taman Nasional wakatobi dapat ditempuh melalui jalur udara maupun jalur laut.  Melalui udara menggunakan pesawat Express Air (Dornier) dengan  penerbangan 5 kali dalam seminggu dan Merpati Air dengan penerbangan 2 kali dalam seminggu, dengan lama perjalanan dari Jakarta sekitar 3,5 jam. Melalui jalur laut melalui pintu laut dengan menggunakan kapal Pelni yang menyinggahi Pelabuhan Murhum Bau-Bau sebanyak 23 kali dalam sebulan dan dilanjutkan dengan menggunakan kapal motor dari Bau-bau – Wanci dengan lama perjalanan 8-9 jam.  Lamanya perjalanan laut dari Jakarta ke Bau-Bau hanya ditempuh selama 3 hari, sedangkan dari Makassar ditempuh selama 13 jam.