SEJARAH KAWASAN
Dibuat oleh : Admin pada tanggal 03 Jun 2017 10:00:00

Kawasan Kepulauan Wakatobi dan perairan di sekitarnya ditetapkan sebagai Taman Nasional Wakatobi melalui tahapan sebagai berikut:

  1. Survey Penilaian Potensi Sumberdaya Alam Laut Wakatobi tahun 1987 (Surat Dirjen PHPA Tanggal 9 tahun 1987);
  2. Usul Rekomendasi Penetapan Kawasan Konservasi Laut di Kep. Tukang Besi/Wakatobi (Surat Ka. Sub BKSDA Sultra No. 34/IV/6/SBKSDA-4/91 tanggal 6 April 1991);
  3. Permohonan Rekomendasi Penetapan Kawasan Konservasi Laut di Kep. Tukang Besi/ Wakatobi (Surat Kakanwil Dephutbun Prop. Sultra No.533/270/Kwl-PHPA/91 tanggal 29 Mei 1991):
  4. Rekomendasi Penetapan Kawasan Konservasi Laut di Kepulauan Tukang Besi/Wakatobi (Surat Sekwilda Tk. II Buton No. 523.3/1255 tanggal 3 Juni 1991);
  5. Rekomendasi Penetapan Kawasan Konservasi Laut di Kepulauan Tukang Besi/Wakatobi (Surat Sekwilda Tk. I Sultra No. 566/3240 tanggal 4 Juni 1991);
  6. Usul Rekomendasi Penetapan Kawasan Konservasi Laut di Kepulauan Tukang Besi/Wakatobi (Surat Dirjen PHPA No. 1340/DJ-VI/PA-4/1991 tanggal 31 Juli 1991);
  7. Rekomendasi Usulan Kawasan Konservasi Laut di Kepulauan Tukang Besi/Wakatobi (Surat Dirjen PHPA No. 2387/DJ-VI/PA-4/1991 tanggal 28 Agustus 1991);
  8. Rekomendasi Usulan Kawasan Konservasi Laut di Pulau Moromaho Dsk. Kab. Dati II Buton Prop. Sultra (Surat Dirjen PHPA No. 3801/DJ-VI/PA-4/1992 tanggal 12 Nopember 1992);
  9. Rekomendasi Penetapan Kawasan Konservasi Laut di Sulawesi Tenggara (Surat Ka. Sub BKSDA Sultra No. 602/V/7/SBKSDA-4/93 tanggal 17 Juli 1993);
  10. Rekomendasi Penetapan Kawasan Konservasi Laut di Kepulauan Tukang Besi/Wakatobi (Surat Bupati KDH Tk.II Buton No. 522.51/3226 tanggal 3 Nopember 1993);
  11. Rekomendasi Penetapan Kawasan Konservasi Laut di Kep. Tukang Besi/Wakatobi (Surat Ka. Kanwil Dephutbun Prop. Sultra No. 106/6168/Kwl-PHPA/93 tanggal 19 Nopember 1993);
  12. Rekomendasi Penetapan Kawasan Konservasi Laut di Kep. Tukang Besi/Wakatobi (Radiogram Pembantu Gub. Wil. Kepulauan Prop. Sultra No. 522.51/201 tanggal 25 Nopember 1993);
  13. Rekomendasi Penetapan Kawasan Konservasi Laut Sulawesi Tenggara (Surat Kadis Perikanan Dati I Sultra No. 523/3220/1993 tanggal 13 Nopember 1993);
  14. Rekomendasi Penetapan Kawasan Konservasi Laut di Kepulauan Tukang Besi/Wakatobi (Surat Kadis Perikanan Dati I Sultra No. 523.2/85/1994 tanggal 11 Januari 1994);
  15. Rekomendasi Penetapan Kawasan Konservasi Laut di Kepulauan Tukang Besi/Wakatobi (Surat Gubernur  KDH Tk. I Sultra No. 522.51/2548 tanggal 7 Maret 1994);
  16. Rekomendasi Penetapan Kawasan Konservasi Laut di Kepulauan Tukang Besi/Wakatobi (Surat Menhut RI No. 976/Menhut-VI/94 tanggal 2 Juli 1994);
  17. Penunjukan Kawasan Perairan Kep. Wakatobi di Kab. Dati II Buton, Prop. Sultra seluas ±  306.690 (Tiga ratus enam ribu enam ratus sembilan puluh) Hektar sebagai Taman Wisata Alam Laut (SK. Menhut RI No. 462/KPTS-II/1995 tanggal 4 September 1995);
  18. Penunjukan Kepulauan Wakatobi dan perairan sekitarnya seluas 1.390.000 Ha sebagai Taman Nasional (SK. Menhut RI No. 393/Kpts-Vi/1996 tanggal 30 Juli 1996);
  19. Organisasi dan Tata Kerja Balai dan Unit Taman Nasional (SK. Menhut RI No. 185/Kpts-II/1997 tanggal 31 Maret 1997);
  20. Organisasi dan Tata Kerja Balai Taman Nasional (SK. Menhut RI No. 6186/Kpts-II/2002 tanggal 10 Juni 2002);
  21. Penetapan Kepulauan Wakatobi dan perairan sekitarnya seluas 1.390.000 Ha sebagai Taman Nasional. (SK. Menhut RI No. 7651/Kpts-II/2002 tanggal 19 Agustus 2002);
  22. Penegasan Menhut bahwa letak dan luas TNW tidak berubah, pulau-pulau yang telah berpenduduk dijadikan zona penyangga (Surat Menhut No. 723/Menhut-II/2005) tanggal 13 Nopember 2005);
  23. Perubahan nama Taman Nasional Kepulauan Wakatobi (TNKW) menjadi Taman Nasional Wakatobi (TNW) (Permenhut No. P.29/Menhut-II/2006 tentang Organisasi dan Tata Kerja Unit Pelaksana Teknis Taman Nasional;
  24. Organisasi dan Tata Kerja UPT Taman Nasional (Permenhut No.P.03/Menhut-II/2007)

Kondisi Fisik Kawasan :

  1. Letak dan Luas
    Kepulauan Wakatobi sejak tahun 2003 telah menjadi Kabupaten sebagai pemekaran dari Kabupaten Buton Provinsi Sulawesi Tenggara dengan batas-batas yang mengacu pada koordinat geografis Titik Referensi sebagai berikut (Peta terlampir) :
    1. TN-3201 yang terletak di P. Wangi-Wangi (05021’28’’ LS;  123033’24’’ BT)
    2. TN-3202 yang terletak di Selatan P. Kaledupa (05034;12’’ LS; 12304618’’ BT)
    3. TN-3203 yang terletak di ujung Selatan P. Binongko (06000’42 LS;  124002’31’’ BT)
    4. TN-3204 yang terletak di P. Moromaho (06007’54” LS; 124035’59” BT)
    5. TN-3205 yang terletak di P. Runduma (05019’27” LS; 124019’21” BT)

    Taman Nasional Wakatobi adalah kawasan konservasi perairan laut yang dibatasi atau memiliki batas-batas luar yang berupa garis-garis yang menghubungkan titik-titik dengan koordinat sebagai berikut (Peta terlampir) :

    1. Titik 1 dengan koordinat geografis 05011’57” LS dan 123020’00” BT;
    2. Titik 2 dengan koordinat geografis 05012’04” LS dan 123038’56” BT;
    3. Titik 3 dengan koordinat geografis 05012’04” LS dan 123039’01” BT;
    4. Titik 4 dengan koordinat geografis 05012’04” LS dan 123050’00” BT;
    5. Titik 5 dengan koordinat geografis 06036’04” LS dan 123020’00” BT.

    Berdasarkan administratif pemerintahan, wilayah Wakatobi terdiri dari 67 desa/kelurahan dan 8 (delapan) kecamatan dan masuk dalam wilayah Kabupaten Wakatobi Propinsi Sulawesi Tenggara.

    Luas kawasan TNW adalah 1.390.000 Ha, sama persis atau overlap dengan luas dan letak wilayah Kabupaten Wakatobi.  Dari luasan tersebut sebanyak 97% merupakan wilayah perairan/laut dan sisanya sebanyak 3% merupakan wilayah daratan berupa pulau-pulau.

  2. Iklim dan Musim
    Iklim di Kepulauan Wakatobi menurut Schmidt-Fergusson termasuk tipe C, dengan dua musim yaitu musim kemarau (musim timur: April – Agustus) dan musim hujan (musim barat: September – April).  Suhu harian berkisar antara 19 – 340C.
  3. Hidrologi
    Secara umum kondisi hidrologi di pulau-pulau yang ada di Kepulauan Wakatobi adalah bersumber dari air tanah, yang berbentuk semacam goa (masyarakat Wakatobi menyebutnya Topa) yang dipengaruhi pasang surut air laut, sehingga rasanya tidak terlalu tawar.  Semakin dekat sumber air tersebut ke laut semakin payau rasa air tersebut.  Di seluruh pulau-pulau yang ada di kawasan TNW semuanya tidak mempunyai sungai, sehingga air hujan yang jatuh langsung diserap oleh tumbuhan dan sebagian lagi mengalami aliran permukaan. Air hujan oleh kebanyakan masyarakat Wakatobi ditampung dalam bak penampungan sebagai cadangan air dalam musim kemarau yang digunakan untuk kebutuhan rumah tangga dan air minum.
  4. Oseanografi
    Perairan TNW tergolong masih bersih dan belum terlihat adanya pengaruh kegiatan manusia seperti limbah rumah tangga.  Hal ini ditandai oleh tingginya dan homogennya kadar oksigen terlarut (5,28 - 7,59 ppm), serta kadar nitrit (< 1,00 - 4,20 ppb) yang selalu lebih rendah dibandingkan dengan kadar nitrat (< 1,00 - 22,46  ppb).   Suhu permukaan laut (2 m) berkisar antara 27,26 – 28,730C.  Nilai salinitas pada permukaan (2 m) berkisar antara 34,15 - 34,34 psu.  Kecerahan pada permukaan (2 m) di perairan Wakatobi berkisar antara 70,8 – 86,1 %.  Nilai kekeruhan (turbiditas) sangat rendah yaitu < 1 NTU.  Intensitas matahari mampu menembus sampai kedalaman antara 55 meter hingga 122 meter.  Kecepatan arus pada kedalaman 13 meter berkisar antara 25 – 43 meter/detik.  (Laporan CRITC-COREMAP LIPI, 2001)
  5. Geologi
    Terbentuknya kepulauan Wakatobi dimulai sejak jaman Tersier hingga akhir jaman Miosen.  Pembentukan pulau-pulau di kawasan ini akibat adanya proses geologi berupa sesar geser, sesar naik maupun sesar turun dan lipatan yang tidak dapat dipisahkan dari bekerjanya gaya tektonik yang berlangsung sejak jaman dulu hingga sekarang. Secara keseluruhan kepulauan ini terdiri dari 39 pulau, 3 gosong dan 5 atol. Terumbu karang di kepulauan ini terdiri dari karang tepi (fringing reef), gosong karang (patch reef) dan atol.  Empat pulau utama di Wakatobi, yaitu Pulau Wangi-Wangi, Kaledupa, Tomia dan Binongko.

Dari proses pembentukannya, atol yang berada di sekitar kepulauan Wakatobi berbeda dengan atol daerah lain. Atol yang berada di kepulauan ini terbentuk oleh adanya penenggelaman dari lempeng dasar. Terbentuknya atol dimulai dari adanya kemunculan beberapa pulau yang kemudian diikuti oleh pertumbuhan karang yang mengelilingi pulau.  Terumbu karang yang ada di sekeliling pulau terus tumbuh ke atas sehingga terbentuk atol seperti beberapa atol yang terlihat sekarang, antara lain Atol Kaledupa, Atol Kapota, dan Atol Tomia.

Kondisi Ekonomi, Sosial dan Budaya Masyarakat :

  1. Ekonomi
    Sebagian besar penduduk Wakatobi bermata pencaharian dengan memanfaatkan sumberdaya alam laut yang ada di perairan kawasan Taman Nasional Wakatobi sebagai sumber pendapatan/mata pencahariannya yaitu sebagai nelayan tradisional dan petani budidaya rumput laut. Sisanya sebagai pedagang atau berlayar dengan jarak berlayar bisa sampai ke Singapura atau Malaysia, selain itu adalah sebagai petani sederhana yang hanya berkebun singkong dan jagung karena kondisi tanah di seluruh Pulau-pulau yang ada di Wakatobi adalah berupa karang/berbatu. Tingkat pendapatan masyarakat masih tergolong rendah, sehingga dapat dikatakan sebagai kategori miskin. 

  2. Sosial
    Penduduk Wakatobi terdiri dari berbagai macam etnis yaitu etnis Wakatobi asli, Bugis, Buton, Jawa dan Bajau. Namun kebudayaan etnis asli masih kuat dan belum banyak mengalami akulturasi dan masing-masing etnis hidup dengan teratur, rukun dan saling menghargai.  Etnis Bajau merupakan etnis yang sangat unik, karena kehidupannya sangat tergantung pada sumber daya laut, mulai dari pemukiman yang berada di atas pesisir laut dengan memanfaatakan batu karang untuk membangun kawasan pemukimannya, sampai mata pencahariaanyapun sanagat tergantung pada laut. Etnis Bugis, Buton dan Jawa umumnya sebagai pedagang dan petani dan hanya sebagian kecil sebagai nelayan.  Masyarakat Wakatobi seluruhnya menganut agama Islam.
    Kondisi pendidikan masyarakat Wakatobi masih tergolong rendah, hal ini bisa dilihat dari tingkat pendidikan masyarakat yang rata-rata hanya tamatan SD dan SMP, hanya sebagian kecil yang merupakan lulusan SLTA dan Perguruan Tinggi.  Sarana prasarana pendidikan juga belum lengkap. Sarana prasarana pendidikan yang tertinggi baru sampai SMU, dimana di setiap pulau telah memiliki satu bangunan SMU.
    Kondisi kesehatan masyarakat Wakatobi tergolong sudah baik, hal ini dapat dilihat dari kehidupan keseharian dan kondisi lingkungan yang ada di masyarakat Wakatobi yang umunya dapat dikatakan bersih, dan pola pemukiman seta kesehatan pemukiman sudah tertata dengan baik walaupun jumlah sarana kesehatan masih rendah. Masalah bidang kesehatan di Kabupaten Wakatobi untuk sekarang ini adalah masih kurangnya jumlah petugas kesehatan terutama dokter.

  3. Budaya
    Masyarakat asli Wakatobi terdiri dari 9 masyarakat adat/lokal, yaitu masyarakat adat/lokal Wanci, masyarakat adat/lokal Mandati, masyarakat adat/lokal Liya, dan masyarakat adat/lokal Kapota di Pulau Wangi-Wangi dan Kapota, masyarakat adat/lokal Kaledupa di P. Kaledupa, masyarakat adat/lokal Waha, masyarakat adat/lokal Tongano dan masyarakat adat/lokal Timu di P. Tomia, serta masyarakat adat/lokal Mbeda-beda di P. Binongko.  Selain itu juga terdapat dua masyarakat adat/lokal yang merupakan pendatang yaitu masyarakat adat Bajau dan masyarakat adat Cia-cia yang berasal dari etnis Buton.  Setiap masyarakat adat/lokal tersebut memiliki bahasa yang khas untuk adat/lokal masing-masing.  Walaupun bahasa yang digunakan berbeda-beda tetapi diantara mereka tetap bisa saling memahami saat melakukan komunikasi.  Tarian khas masyarakat Wakatobi diantaranya adalah Tari Lariangi (Kaledupa), Pajoge, Tari Balumpa (Binongko), dll.