MANGROVE
Dibuat oleh : Admin pada tanggal 04 Jun 2017 17:00:00

Bakau (mangrove) memiliki peranan penting dalam melindungi pantai dari gelombang, angin dan badai. Tegakan mangrove dapat melindungi pemukiman, bangunan dan pertanian dari angin kencang atau intrusi air laut. Mangrove juga terbukti memainkan peran penting dalam melindungi pesisir dari gempuran badai.

Berdasarkan survey yang dilaksanakan tahun 2001, di kawasan TN Wakatobi terdapat 22 jenis bakau sejati dan 13 jenis bakau ikutan. Keberadaan bakau di TN Wakatobi yang terbanyak berada di Pulau Kaledupa. Sedangkan di Wanci dan Tomia hanya beberapa desa saja yang pantainya mempunyai pohon bakau, bahkan di Binongko hanya di Desa Wali yang dapat ditemukan hutan bakau.

Parameter Viabilitas dan Indikator Pengukuran

Survei untuk mengetahui jenis mangrove di TNW telah dilakukan, selanjutnya perlu dilakukan monitoring lanjutan untuk mengukur densitas (kerapatan) dan kanopi mangrove serta survei jenis organisme lainnya yang berada di dalam ekosistem mangrove terutama berkaitan dengan fungsi mangrove sebagai daerah pembiakkan (nursery grounds) bagi ikan, kepiting udang dan kerang-kerangan.

Indikator yang diukur dapat berupa persentase tutupan mangrove, komposisi jenis mangrove, komposisi substrat serta fluktuasi kondisi biologi, fisik dan kimia dari ekosistem mangrove.

Tekanan dan Ancaman

Walaupun keberadaan bakau mempunyai fungsi yang sangat penting tetapi saat ini di wilayah TN Wakatobi menghadapi berbagai ancaman akibat kebutuhan manusia. Ancaman penebangan untuk keperluan kayu bakar hampir terjadi di semua wilayah TNW (Wangi-Wangi, Kaledupa, Tomia maupun di Binongko). Sedangkan untuk keperluan pembangunan pemukiman maupun sarana/bangunan umum terjadi di desa Ambeua, Horuo dan Tampara di Kaledupa. Sedangkan di desa Horuo yang tingkat kerapatannya paling padat, juga mendapat ancaman yang hampir sama terutama untuk kayu bakar dan keperluan pembuatan sero. Di desa Tampara kondisi hutan bakau juga mengalami tekanan yang besar terutama untuk keperluan kayu bakar, pembangunan pemikiman dan fasilitas umum. Sedangkan pembuatan empang untuk keperluan budidaya juga menjadi ancaman jika tidak memperhatikan fungsi hutan bakau tersebut. Kondisi Bakau yang masih tergolong baik di Kaledupa meliputi : Langge, Tanomeha dan sebagian desa Sandi.

Kondisi mangrove di TN wakatobi sampai saat ini masih relatif baik, gangguan yang terjadi masih bersifat minor, akan tetapi sejalan dengan perkembangan Kabupaten Wakatobi yang diprediksi akan semakin pesat dan lokasi hutan mangrove yang berada di pulau-pulau utama menyebabkan tekanan kepada hutan mangrove akan semakin meningkat, ancaman perubahan fungsi hutan mangrove menjadi daerah pemukiman, jalan, pelabuhan, tambak maupun yang lainnya dapat saja terjadi.

Perlu dilakukan pengeloalan mangrove yang bersifat terpadu dengan pemerintah kabupaten Wakatobi serta masyarakat sekitar kawasan hutan mangrove, kondisi hutan mangrove yang berada di daerah teresterial menyebabkan potensi terjadi konflik kepentingan yang lebih kompleks, terutama klaim terhadap hutan mangrove sebagai lahan milik pribadi.
Selain itu perlu juga dilakukan pemetaan mangrove baik dengan survei lapangan maupun penginderaan jauh agar monitoring mangrove dapat menghasilkan data yang optimal.

Beberapa jenis mangrove yang ditemukan di TNW tercatat 22 jenis dari 13 famili mangrove sejati, antara lain : Rhizophora stylosa, Sonneratia alba, Osbornia octodonta, Ceriops tagal, Xylocarpus moluccensis, Scyphiphora hydrophyllacea, Bruguiera gymnorrhiza, Avicennia marina, Pemphis acidula, dan Avicennia officinalis  (UTNKW, 2001).