PERINGATAN HARI BUMI BALAI TAMAN NASIONAL WAKATOBI TAHUN 2018 “AKSI NYATA : PESISIRKU UNTUK BUMIKU”
Dibuat oleh : Admin Website pada tanggal 23 Apr 2018 10:00:31

Penulis : Hastuti



Rangkaian Acara peringatan Hari Bumi oleh Balai Taman Nasional Wakatobi dilaksanakan mulai tanggal 21-22 April 2018 bekerjasama dengan SARA BARATA KAHEDUPA, Pemerintah Kecamatan Kaledupa, Pemerintah Desa Sombano dan Mahasiswa KKN-PPM Universitas Gajah Mada serta berbagai pihak dari Pemerintah Daerah, Polsek Kaledupa WWF, TNC, FORKANI, Operation Wallacea, Bank BPD Sultra.

Kegiatan yang mulai di gelar hari Sabtu 21 April 2018, diawali penanaman bibit Mangrove dan dilanjutkan Aksi bersih sampah plastik yang dilakukan pagi hingga menjelang siang hari, di sepanjang pantai wilayah Desa Ambeua Raya, Kelurahan Ambeua dan Kelurahan Lagiwae.  Tujuan dari kegiatan ini untuk menumbuhkan kepedulian semua pihak terhadap keberlangsungan ekosistem penting bagi pesisir yaitu ekosistem Mangrove.

Acara dibuka secara resmi oleh Kepala Balai Taman Nasional Wakatobi, Dr. Heri Santoso, S.Pi., M.Si. Dalam sambutannya beliau berharap momentum peringatan hari bumi dengan serangkaian kegiatan yang dilakukan dapat menjadi motivasi kepada masyarakat khususnya generasi muda untuk lebih mencintai lingkungan dan bumi. Wakil Bupati Wakatobi, juga memberikan apresiasi yang luar biasa terhadap kegiatan ini dan menyampaikan pesan untuk menjaga bumi Wakatobi yang memiliki keragaman hayati yang tinggi sebagai Taman Nasional Laut di Indonesia dan diakui oleh dunia melalui predikat Cagar Biosfer.

Dalam sesi penanaman mangrove, dimulai dari penanaman secara simbolis oleh Kepala Balai TN Wakatobi, Camat Kaledupa, Perwakilan SARA BARATA Kahedupa, Kapolsek Kaledupa, Perwakilan Danramil, Perwakilan TNC Wakatobi, Perwakilan FORKANI dan diikuti oleh seluruh peserta, jumlah bibit yang ditanam sebanyak 500 bibit dari jenis Rizophora di sekitar Dermaga Ambeua Kec.Kaledupa,. Sementara dalam aksi bersih sampah plastik, peserta berhasil mengumpulkan sampah plastik dengan berat mencapai 2,8 ton. Jenis sampah yang banyak ditemui adalah sampah botol plastik dan bungkusan snack. Hal ini menunjukkan masih kurangnya kesadaran masyarakat sekitar untuk menjaga dan mencintai lingkungan. dengan dilaksanakannya kegiatan ini harapannya masyarakat lebih peduli lagi terhadap kebersihan lingkungan dan mengurangi penggunaan sampah plastik sehingga dapat mengurangi dampak negatif dari sampah plastik terhadap lingkungan terutama laut.

Sore harinya team penyelam dari berbagai pihak turun untuk melakukan pengecekan lokasi selam yang ada di Pulau Hoga. Lokasi spot yang sempat dicek yaitu di dive spot hoga channel. Dari hasil pengecekan terlihat beberapa terumbu karang mengalami kerusakan, seperti pemutihan dan karang yang patah. Banyak indikasi dari kerusakan ini, antara lain tercemarnya laut dengan banyaknya sampah plastik yang menutupi terumbu karang, adanya penggunaan alat tangkap yang tidak ramah lingkungan yang digunakan oleh nelayan sekitar sehingga berakibat pada pemutihan terumbu karang.

Hari ke dua pada tanggal 22 April, merupakan puncak pelaksanaan dari serangkaian kegiatan yang telah dilakukan. Setelah malam hari dilaksanakan kemah konservasi yang diikuti oleh 110 orang dari KPA (Kelompok Pecinta Alam) Tridacna Wang-wangi, KPA Faturumbu, Gudep (Gugus Depan) Teequilla SMKN 1 Kaledupa, Gudep Lalesa SMAN 2 Kaledupa dan Gudep MAS Kaledupa. Malam harinya juga dilakukan diskusi interaktif dengan Tema “Bumi dan Lingkungan” yang bertujuan membangkitkan kesadaran dan kepedulian generasi muda untuk menjaga dan memelihara bumi dan lingkungan, di pandu langsung oleh Ibu Wakil Bupati Wakatobi, Ilmiati Daud, SE., M.Si. Dalam diskusi ini ada 3 point penting yang di tularkan oleh Ibu Wakil Bupati Wakatobi ke peserta kemah konservasi yaitu Sampahmu adalah milikmu, Pedulilah terhadap sampah dan jadikanlah Wakatobi bebas sampah. Selain peserta kemah dari KPA dan GUDEP turut hadir juga praktisi dari NGO yang ada di Wakatobi.

Sebelum memulai puncak acara Peringatan Hari Bumi tanggal 22 April 2018, peserta kemah konservasi melakukan aksi bersih pantai dari sampah plastik yang berlokasi di sepanjang areal perkemahan di pulau Hoga dan berhasil mengumpulkan sampah plastik sebanyak 450 kg sampah plastik yang didominasi botol bekas minum dan kebanyakan sampah bekas pengunjung yang datang ke pulau Hoga. Target utama aksi bersih sampah plastik ini sebagai edukasi bagi semua peserta yang berpartisipasi untuk lebih peka dan mengurangi penggunaan produksi sampah plastik.

Setelah melakukan beach clean up, dilakukan pembukaan kegiatan dengan pembacaan do’a tolak bala yang dilakukan oleh SARA BARATA KAHEDUPA, dengan membuat persembahan kepada laut sebagai tanda ucapan terimakasih kepada Allah SWT do’a di pimpin oleh salah seorang imam yang diamini oleh seluruh peserta yang hadir. Sesuai tradisi masyarakat kaledupa persembahan yang telah dido’akan kemudian dilarung ketengah laut sebagai permohonan kepada penguasa agar dijauhkan dari segala macam marabahaya, segala hal yang tidak baik ikut hanyut bersama persembahan dan yang tinggal serta yang akan datang adalah segala hal-hal yang baik.

Acara dilanjutkan dengan sambutan dari Wakil Bupati Wakatobi, dalam sambutannya beliau menegaskan bahwa persoalan bumi dan lingkungan bukan hanya menjadi tanggung jawab pemerintah semata tetapi menjadi tugas dan tanggung jawab bersama elemen masyarakat yang berada di pulau Wakatobi khususnya di pulau Kaledupa, dibutuhkan peran aktif masyarakat untuk bahu membahu menjaga dan memelihara lingkungan sekitar.

Moment penting dari peringatan Hari Bumi yang dilakukan oleh Balai Taman Nasional Wakatobi yaitu Pembacaan “Deklarasi Perlindungan Wilayah Pesisir dan Laut Wilayah Barata Kahedupa” yang dibacakan oleh seluruh anggota SARA BARATA KAHEDUPA. Yang telah disepakati bersama dan langsung ditandatangani oleh perwakilan SARA BARATA KAHEDUPA yaitu Yang Mulia Lakina Kahedupa, Yang Mulia Bonto Tooge Umbosa, Yang Mulia Bonto Tooge Siofa, disaksikan  juga ditandatangani oleh Wakil Bupati Wakatobi, Kepala Balai Taman Nasional Wakatobi, Camat Kaledupa, Kapolsek Kaledupa, Koramil Kaledupa dan Kepala Desa Ambeua Raya. Diikuti aksi dukungan 1000 tandatangan oleh masyarakat kaledupa pada spanduk yang telah disediakan Tim Balai Taman Nasional Wakatobi. Isi dari Deklarasi ini adalah : 1. Melakukan perlindungan dan pelestarian sumber daya alam di perairan laut Pulau Kaledupa dan sekitarnya; 2. Mewujudkan pemanfaatan sumber daya alam laut yang lestari di perairan Kaledupa dan Pulau Hoga sesuai dengan peruntukan Zonasi Taman Nasional Wakatobi; 3. Mewujudkan perairan pesisir Pulau Kaledupa dan Hoga bebas dari Sampah Plastik; 4. Melarang adanya kegiatan penangkapan ikan dengan menggunakan bom dan bius serta penangkapan biota laut lainnya dengan cara yang tidak ramah lingkungan; 5. Melarang kegiatan pengambilan atau penangkapan satwa yang dilindungi oleh Undang-Undang; 6. Melarang adanya kegiatan penambangan batu karang dan pasir. Deklarasi ini sebagai bentuk kesepakatan seluruh masyarakat kaledupa yang diperkuat dengan dukungan lembaga adat untuk bersama-sama peduli melindungi kehidupan pesisir dan laut yang menjadi sumber kehidupan masyarakat wakatobi.

Pelepasan tukik penyu hijau (Chelonia midas) menjadi rangkaian acara selanjutnya. Ada sekitar 74 ekor tukik yang dilepaskan di pantai perairan pulau hoga. Sebelum pelepasan tukik dimulai, terlebih dahulu seluruh tamu undangan diberikan pengarahan dan penjelasan oleh Bapak Rojali, beliau adalah salah satu anggota kader konservasi binaan Balai Taman Nasional Wakatobi dan juga Ketua Kelompok Sentra Penyuluhan Kehutanan Pedesaan (SPKP). Pelepasan tukik penyu hijau berarti memberikan kehidupan yang sesungguhnya bagi tukik tersebut yang saat ini keberadaannya di alam sudah semakin berkurang.

Rangkaian acara ditutup dengan diskusi terkait bentuk kerjasama pengelolaan Kawasan Taman Nasional Wakatobi yang berlangsung di kantor pusat informasi Taman Nasional Wakatobi di Pulau Hoga. Pemberian materi disampaikan oleh Kepala Balai Taman Nasional Wakatobi, Dr. Heri Santoso, S.Pi, M.Si. Dalam paparannya hal penting yang disampaikan bahwa  pengelolaan dan pembangunan kawasan konservasi Taman Nasional Wakatobi mulai dari keragaman hayati, kearifan lokal masyarakat yang didukung melalui lembaga adat juga peningkatan kesejahteraan masyarakat harus saling bersinergi dan saling bekerja sama satu sama lain. Keberlangsungan dan kelestarian Sumber daya alam yang ada di laut Wakatobi tentunya akan menjamin kesejahteraan masyarakatnya.

Rangkaian hari bumi, masih berlanjut dengan mengunjungi salah satu Desa Konservasi dan Desa Wisata dampingan Taman Nasional Wakatobi dan WWF di Kaledupa serta lokasi KKN PPM UGM 2018. Dalam kunjungan ini peserta kunjungan disambut  dengan tarian budaya dilanjutkan dengan mengunjungi stand pameran produk UMKM buatan masyarakat Sombano.